Selasa, 24 April 2018

Gunakan Bahasa Asing di Banyak Tempat Ruang Publik

Pemprovsu Langgar Perda No 8/2017


#jack, medan

Pemerintah provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) melanggar Peraturan Daerah (Perda) No.8 Tahun 2017 tentang Pengguanaan Bahasa Indonesia dan Perlindungan Bahasa Daerah dan Sastra Daerah. Hal ini terlihat dari sejumlah penggunaan bahasa asing disejumlah tempat diruang publik maupun dilingkungan Kantor Gubsu.

Pantauan lapangan, Jumat (8/4/2018) dilingkungan kantor Gubsu terlihat masih tegar berdiri sejumlah besar penggunaan bahasa asing, sepertiu ‘I love Sumut’yang terpampang di bagian depan kantor, Smart City, press room dan banyak lagi dijumpai .Bahkan penggunaan katakata asing tersebut,  tersebut tidak diikuti penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menurut anggota DPRD Sumut, Muchri Fauzi Hafiz pelanggaran yang telah dilakukan Pemprovsu yang dengan sengaja tidak menaati dan menjalankan Perda No.8 Tahun 2017 tersebut merupakan hal yang sangat memperihatinkan. “Bagaimana tidak, Gubernur telah menanda tangani Perda tersebut di hujung tahun 2017 lalu. Namun hingga kini semua penggunaan bahasa asing di lingkungan kantor Gubsu tersebut, seakan-akan menjadikan hal pembangkangan yang sengaja untuk tidak mengindahlan Peraturan yang sengaja dibuat dalam hal menyelamatkan budaya dan bahasa Indonesia yang dengan jelas diamanahkan oleh undang-undang Indonesia pula,” ujar Fauzi kecewa.

Selain itu beberapa program Pemprovsu juga masih menggunakan bahasa asing, lanjut Wakil ketua Komisi A itu, seperti program aplikasi Sumut Smart Province (SSP) yang diresmikan pertengahan bulan Maret lalu, yakni aplikasi integrasi e-goverment dan lainnya.

Sementara itu terpisah, Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara (BBSU) Fairul Zabadi mengakui banyak ruang publik, khususnya di Medan yang belum menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Salah satunya di Bandara International Kualanamu.

“Saya baru dua bulan di Medan, cukup terkejut juga ketika menginjakkan kaki di sini. Misalnya saat saya baru tiba di Bandara langsung disambut dengan bacaan welcome to Kualanamu International Airport. Kenapa harus bahasa Inggris?” ucap Fairul.

Menurutnya lebih baik penggunaan bahasanya adalah ‘Selamat datang di Bandara Internasional Kualanamu’. Hal ini dikarenakan amanat Perda tersebut. Memang saat ini menurutnya Perda tersebut masih dalam tahap sosialisasi.

Harus ada langkah-langkah yang diikuti secara bertahap. “Jadi masih tahap sosialisasi. Jika ada datanya memang melanggar, maka kita akan melakukan penyadaran instansi tersebut telah melanggar,” katanya.

Setelah diketahui instansi tersebut melanggar, maka tupoksi Balai Bahasa untuk memberikan bahasa yang benar. “Jadi seharusnya dalam tahap sosialisasi ini bukan hanya di satu tempat saja melainkan di seluruh tempat dan seluruh Kabupaten/Kota. Dan Pemda harus terlibat,” katanya. ***