Jumat, 15 December 2017

Teknologi Hazton Teruji di Sumut


#ferry, deliserdang
Popularitas teknologi Hazton yang dikabarkan mampu mendongkrak produktivitas padi, akhirnya terbukti. Meski belum dipanen, namun dari padatnya rumpun yang dipenuhi malai padi, hasil minimal 7 ton per hektar (ha) seakan telah berada di depan mata.

Sengatan mentari yang tepat menyergap ubun-ubun kepala tak lagi mampu menghalangi langkah memasuki penangkaran benih padi di DEM Area Kodam I/BB Desa Perkebunan Ramunia Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), Senin (7/8/2017). Tampak, sebagian padi mulai menguning, bahkan cenderung berwarna kecoklatan, sebagai pertanda untuk segera dipanen.

Namun, tujuan bertandang ke lokasi penangkaran yang bekerjasama dengan PT Samudera Surpluss ini bukan sekadar melihat padi menguning. Beruntung, Praktisi Teknologi Hazton, Ir John Albertson Sinaga, segera tanggap. Langkah kakinya segera mengarah ke sisi kiri setelah memasuki gerbang penangkaran itu. “Ini hasil Teknologi Hazton. Coba bandingkan dengan pertanaman padi tanpa menggunakan teknologi Hazton,” ungkap Alumni Fakultas Pertanian Universitas Soedirman Purwokerto itu sembari memegang rumpun padi padat yang dipenuhi malai.

Menurutnya, Hazton merupakan gabungan nama penemu teknologi ini, yakni Hazairin dan Anton Kamaruddin. “Hazairin saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat, dan Anton salah seorang stafnya,” papar John Albertson.

Ia mengemukakan, teknologi Hazton merekayasa pembentukan rumpun padi secara padat agar bisa bermalai semua, sehingga mampu meningkatkan produktivitas. Pihaknya sengaja menerapkan teknologi Hazton pada pertanaman padi seluas 4 ha di penangkaran benih padi ini. Tujuannya agar bisa menjadi pembanding dengan tanaman padi tanpa menggunakan teknologi Hazton. Setiap lubang tanam, kata John Albertson, diisi 20-30 benih padi varietas Inpari-30 dengan sistem jarwo 2:1. Hasilnya, secara fisik, tanaman lebih kuat dari serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) serta malainya masak serentak. Tak hanya itu, lanjutnya, seluruh rumpun menjadi tanaman induk produktif karena benih berada di posisi tengah dan terjepit, sehingga cenderung tidak menghasilkan anakan.

“Bulir padi juga masaknya lebih cepat berkisar dua minggu dari tanaman tanpa teknologi ini,” klaimnya lantas menambahkan, semua varietas bisa dimanfaatkan untuk teknologi Hazton.

Keunggulan teknologi Hazton juga diakui Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sumut, Juwaeni SP MMA. “Dinas TPH Sumut sudah pernah melakukan uji coba pertanaman padi di Nias tahun 2015, dan hasil panennya berkisar 8 sampai 10 ton per hektar,” ungkap Juwaeni melalui layanan WhatsUp, Senin (7/8/2017) petang.

Bahkan, lanjutnya, Dinas TPH Sumut sempat mendapat “jatah” 1.000 ha untuk pertanaman padi menggunakan teknologi Hazton di 20 kabupaten/kota pada tahun 2016. Hanya saja, atas dasar efisiensi, anggaran tersebut gagal digelontorkan pemerintah pusat. “Makanya saat penyusunan RKA-KL di Depok beberapa waktu lalu, Dinas TPH Sumut mengusulkan penggunaan teknologi Hazton seluas 500 hektar di 12 kabupaten/kota. Mudah-mudahan disetujui untuk peningkatan kesejahteraan petani,” harapnya.

Ia menambahkan, melalui teknologi Hazton, penanaman relatif mudah, tanaman cepat beradaptasi dan tidak stress. Selain itu, pemanfaatan bibit tua, umurnya berkisar 20-35 hari, menjadikannya lebih tahan terhadap hama keong dan orong-orong. “Rumpun padi Hazton sangat rapat, sehingga tidak memberi kesempatan pada gulma untuk tumbuh serta meminimalisir penyulaman dan penyiangan. Artinya biaya tenaga kerja bisa dihemat,” tandasnya. ***

Teks Foto: Praktisi Teknologi Hazton, Ir John Albertson Sinaga, berada di antara rumpun padi yang berlimpah malai, di lokasi penangkaran padi Desa Perkebunan Ramunia Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), Senin (7/8/2017). Foto Fey