Sabtu, 16 December 2017

Kasus Penggerebekan SIM Palsu,

Polisi Amankan Empat Pemilik Gudang Botot


#jack, medan

Petugas Ditkrimum Polda Sumatera Utara terus mengembangkan kasus pembuatan SIM palsu. Teranyar, dalam kasus ini  polisi kembali mengamankan 4 orang diduga terlibat dalam kasus tersebut pada Jumat (29/9/2017).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, empat orang yang diamankan itu antara lain Nur (26), FN (34), FL (38). Mereka adalah tiga bersaudara pemilik gudang botot tempat tersangka HR membeli SIM bekas. Seorang lainnya yaitu EK (36) yang merupakan istri tersangka H yang kini berstatus DPO.

"Iya benar, mereka diamankan sekitar pukul 05.30 Wib pagi tadi," ujar Direktur Ditkrimum Kombes Nurfallah.

Hasil pengembangan penyelidikan juga menemukan adanya keterlibatan pihak lain yang kini masih diburu oleh polisi. Diantaranya tersangka H berperan sebagai mensetting nama nama untuk di cetakan kedalam SIM, IN berperan mencari pemesan SIM Palsu dan turut membuat SIM.

"Penyelidikan juga menemukan bahwa tersangka HR Cs membeli SIM bekas dari pemilik gudang botot FN Cs secara bertahap 3 kali dengan total berat lebih kurang 1 ton," urainya.

Polda Sumut menggerebek sebuah rumah tempat pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) palsu di Jalan Setia Luhur, Gang Arjuna, No 9 Helvetia.

Polisi menyita jutaan lembar SIM palsu yang ditemukan di rumah kontrakan. Lembar-lembar SIM itu ditemukan dalam belasan karung putih, sebagian diberondokkan di dalam kasur dan di dalam speaker.

Selain menyita jutaan lembar SIM bekas, polisi juga menyita sejumlah alat untuk pencetakan SIM, komputer, alat scanning, serta alat laminating. Polisi juga menyita bong sabu dan sabu dalam klip kecil dari tersangka HR. Sabu itu diduga baru diisap oleh ketiga pelaku.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan tiga orang laki-laki yang diduga berperan pembuat SIM palsu dan pencari pembeli. Ketiga orang pelaku yakni inisial HR, IR dan RF. RF merupakan salah seorang oknum polisi berpangkat Bripka, bertugas di bagian Yanma Poldasu. Ia diduga berperan membekingi operasi pembuatan SIM palsu ini.

Nurfallah mengatakan, dari pengakuan ketiga pelaku, dalam empat bulan ini, mereka sudah menerbitkan 70 lembar SIM palsu dan sudah dijual ke masyarakat. Para pelaku menjual SIM tersebut dengan tarif mahal. Harganya selembar SIM C senilai Rp 450 ribu, SIM A Rp 500 ribu dan SIM B Rp 650 ribu. "Mereka mencari orang-orang yang butuh SIM. Alasannya karena bikinnya nembak, jadi pesanannya per sepuluh lembar," terangnya.

Nurfallah menambahkan, para pelaku membeli sim-sim bekas tersebut dari gudang botot di lokasi Marelan. Jumlahnya bergoni-goni. Mereka membeli sim bekas seharga Rp 1500 per kilogram

Untuk perannya, terang Nurfallah, tersangka HR membeli sim bekas itu dari gudang botot. Lalu bersama IR, mereka berdua menyortirnya, memilah mana yang masih bagus untuk dipakai mencetak SIM baru. Sedangkan, RF diduga sementara membekingi operasi sim palsu ini. ***