Rabu, 19 December 2018

RSU Pirngadi dan Martha Friska Beralasan Obat BPJS Habis

Pasien Jantung, Ginjal dan Hipertensi Tebus Obat Diluar


#rafra, medan

Hasil investigasi selama dua bulan di enam rumah sakit pemerintah dan swasta di wilayah Kota Medan,  LSM Sentra Advokasi Untuk Hak Dasar Rakyat (SAHDAR) menemukan dua rumah sakit rujukan BPJS Kesehatan tingkat lanjut  selalu kehabisan stok obat terutama bagi pasien berpenyakit jantung, ginjal dan hipertensi peserta BPJS kesehatan.

Akibat kekosongan tersebut,  pasien penyakit jantung,  ginjal dan hipertensi terpaksa menebus obat resep dokter diluar daftar peserta BPJS kesehatan dengan harga tinggi. 

Kedua rumah sakit dari enam rumah sakit yang diinvestigasi adalah RSU Pirngadi Medan dan Martha Friska Kolonel Yos Sudarso. Sementara,  RSU Haji Medan,  Adam Malik dan dua puskesmas di Glugur Darat.

"Kami menemukan 33 kasus pasien BPJS kesehatan harus membeli obat di luar rumah sakit pemerintah dan swasta di Kota Medan, " kata Koordinator Sentra Advokasi Untuk Hak Dasar Rakyat (SAHDAR), Ibrahim, Jumat (12/10/18).

Menurutnya, permasalahan pembelian obat di luar fasilitas kesehatan tersebut ditenggarai terjadi, karena stok obat yang ada di rumah sakit rujukan tingkat lanjut seperti Dr Pirngadi dan Martha Friska Jalan Yos Sudarso ditemukan kosong. Sehingga pasien-pasien rawat jalan atau rujuk balik, yang kondisinya sudah stabil dan belum stabil hanya bisa pulang dengan kertas ‘bon obat’, yang tertulis jenis obat hasil konsultasi dengan dokter, bukan obat-obatan yang seharusnya bisa mereka terima dan dikonsumsi di rumah.

“Alhasil permasalahan kosongnya obat di rumah sakit mitra BPJS ini, membuat banyak pasien yang sudah mengantri berjam-jam untuk mendapatkan obat di rumah sakit harus berakhir dengan kekecewaan. Karena mau tidak mau pasien tersebut harus membeli obat di apotik, dengan uang yang berasal dari kantong mereka sendiri. Meskipun obat yang telah diresepkan kepada mereka sudah ditanggung oleh BPJS,” beber Koordinator Sahdar ini.

Cerita berlanjut, pembelian di apotik sekitar rumah sakit dengan uang dari kantong sendiri ini menurut pasien rujuk balik atau rawat jalan terpaksa harus dilakukan. Karena meskipun sudah menerima bon obat dari rumah sakit, butuh waktu yang sangat lama, untuk bisa memperoleh obat yang dibutuhkan. Bahkan disebut perlu satu atau sampai dua minggu. Sementara pasien rujuk balik dengan penyakit kronis dan akut secara rutin harus mengkonsumsi obat obat dengan segera dan kontiniu. Bahkan berdasarkan pengakuan pasien, obat-obatan yang sudah di bon oleh rumah sakit melalui bon kertas tidak pernah mereka ambil karena sulit dan berbagai macam alasan lain dari rumah sakit.

Menurut Ibrahim peneliti SAHDAR mengungkapkan sampai dengan saat ini permasalahan kekosongan obat, yang terjadi di rumah sakit sangat merugikan masyarakat yang menjadi peserta BPJS. Sementara berdasarkan aturan perpres 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, dengan tegas mengatur tentang pelayanan maksimal yang dilakukan oleh faskes tidak hanya kepada pasien rawat inap, tetapi juga mencakup kepada pelayanan dan ketersedian obat bagi pasien rujuk balik dan rawat jalan. ***