Jumat, 15 Januari 2010 - 12:56 WIB - admin
Wahyudi, medan
Kelakuan ayah satu ini tidak patut dicontoh. Bukannya membelai anaknya dengan kasih sayang, malah menghajar kedua anak kandungnya dengan balok.
Akibatnya, kakak beradik, Ramadini (5) dan Lira Vina (4), Kamis (14/1) terpaksa dilarikan warga dan kepala desa Jalan Makmur Kelurahan Sambirejo Kecamatan Percut Sei Tuan dari rumahnya ke Rumah Sakit Pingadi Medan.
Pipi wajah kakak adik terkhusus Lira, bengkak karena dipukul balok oleh ayah kandungnya Roni Siregar (32). Keduanya ketika diobati di ruang instalasi gawat darurat (IGD) RS Pirngadi Medan, berusaha menutupi rasa sakit dengan memejamkan mata sambil merapatkan bibirnya. Bahkan keduanya tidak bersuara dan tidak menangis.
Ketika ditanya, mereka sudah terbiasa dengan perlakuan kasar itu dan sang ayah sangat melarang menangis. "Kami nggak boleh nangis, kok nangis semangkin dimarahi ayah," kata Lira sambil tiduran.
Ramadini, yang telah selesai divisum lebih dulu, sambil duduk di tempat tidur, menambahkan cerita adiknya. Ketika itu, katanya, Roni Siregar (32) marah lalu memukul. Mereka mengaku, alasannya tidak tahu. "Pakai balok, nggak tahu kenapa, karena main jorok mungkin," kata Dini yang juga belum bisa menyebut R dengan sempurna.
Pengakuan mengejutkan terucap dari bibir gadis kecil bertubuh kurus ini, karena bukan saja perlakuan kasar, yang mengakibatkan semua wajah bengkak, sering didapat dari ayahnya, juga perlakukan tidak senonoh. "Nananya dibuka terus itunya (red, kelaminnya) sering pegang-pegang ayah," katanya.
Dari perlakuan itu, dia mengaku tidak sayang sama ayahnya. Karena itu sekalipun usianya masih sangat kecil, keduanya ingin Roni tidak kembali lagi ke rumah. "Nggak mau ayah balik lagi. Jahat," katanya sambil menundukkan kepala.
Kepala lingkuangan Kelurahan Sambirejo Kecamatan Percut Sei Tuan, Joko Susilo, yang ikut mengantar kedua anak ke RSU Dr Pingadi Medan mengatakan, kedua anak itu tinggal dengan ayahnya, sedangkan ibu tidak diketahui dimana.
Sebenarnya, kata Susilo, keduanya anak dari istri mudanya, sedangkan istri pertamanya memberikan dia 4 anak. "Sejak istri keduanya pergi, dia tinggal bersama istri pertamanya begitu juga dua anak dari istri mudanya itu," katanya.
Sikap kasar yang ditunjukkan Roni, jelasnya, bersadarkan pengakuan warga bertetangga dengan mereka, memang sudah sering terjadi. Namun tidak berani dikarena takut mencampuri urusan rumah tangga orang lain. "Namun hari ini, ketika warga datang kemudian mengintip, mereka sudah terkapar. Dan ketika tidak ada orang di rumah, warga menculik mereka dan melaporkan ke saya," katanya.
Sekarang, kata dia, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Roni harus merasakan dinginnya jeruji sel penjara Polsek Percut Sei Tuan. Sebelum sampai di tangan polisi, Roni juga sempat diamuk warga setempat yang geram terhadap perbuatan bejatnya.
Sedangkan hasil pemeriksaan keduanya, tidak hanya bengkak di bagian wajah namun juga wilayah badan. Sedikitnya lima bekas memar di bagian kulit luar kelamin (vagina) korban. Dari informasi yang diperoleh, 5 bekas memar itu merupakan bekas sulutan api rokok. ***