Bangsa Indonesia Saat Ini 'Dibajak' Asing

>> jams, medan
          Tokoh nasional juga mantan tokoh Peristiwa Lima Belas Januari (Malari) 1974, Hariman Siregar menilai, bangsa dan negara Indonesia saat ini telah terbelenggu dan dikuasai negara luar (asing), khususnya bidang perekonomian dan bisnis.
Hal itu disebabkan sistem kepemimpinan bangsa yang cenderung tidak berpihak raktyat, karena lebih mengedepankan bisnis dan materi pribadi dan kelompok semata.
"Secara tidak langsung bangsa Indonesia saat ini telah 'dibajak' negara lain (asing). Sebab segala titik usaha yang ada di negara kita (Indonesia) telah dikuasai oleh asing. Sehingga rakyat kita saat ini hanya mampu sebatas menjadi penonton dan buruh di negaranya sendiri," kata Hariman Siregar dalam ceramahnya di Seminar Kebangsaan digelar Pemuda Lingkar Tanah Air (Pelita) di Hotel Madani Jalan SM Raja Medan, Selasa.
Selain mengundang Hariman Siregar, seminar juga mengundang Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokom) Provsu, Drs H Eddy Syofian MAP, dan Pengurus KNPI Kota Medan, Joserizal. Seminar dihadiri Ketua Pemuda Lingkar Tanah Air, Budi Hartono itu dihadiri puluhan aktifis mahasiswa sejumlah universitas di Medan, pemuda dan pelajar.
Menurut dia, sistem pemerintahan maupun perpolitikan yang berjalan saat ini masih belum berpihak pada rakyat. Apalagi sistem perekonomian yang dijalankan para pengusaha, terkesan mengesampingkan kepentigan bangsa dan negara.
"Makanya sungguh saat aneh di negara tercinta kita Indonesia ini, kita punya banyak asset tapi tak satupun perusahaan perindustrian besar yang dimiliki bangsa sendiri. Bangsa kita hanya mampu sebatas mengurus dan membuat KTP, surat tanah dan identitas diri saat pergi ke luar negeri," kata Hariman yang mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa UI itu.
Dia menilai, jika para pemuda Indonesia masih tidak punya keberanian dan kebersamaan untuk mengubah kondisi bangsa saat ini, maka sudah pasti kondisi bangsa kita kedepan akan semakin parah dan terus terbelenggu. "Bahkan bukan tidak mungkin, akan tergadai ke negara lain," tegasnya.
Sebab menurut dia, kekuatan rakyat sebagai masyarakat sipil di luar institusi formal, masih tetap diperlukan untuk checks and balances (penyeimbang) agar demokrasi bisa berkualitas dan substantif dalam melayani kepentingan rakyat. "Tanpa adanya kritikan yang dilakukan rakyat, maka akan sulit melakukan perubahan di sistem pemerintahan yang dinilai sudah tidak berpihak rakyat," katanya.
Sebelumnya, Ketua Pemuda Lingkar Tanah Air Budi Hartono mengaku, seminar dilaksanakan bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat kebangsaan di kalangan masuarakat. Sebab menurutnya, saat ini semangat kebangsaan di tanah air sangat menurun.
Hal senada dikemukakan Kadis Kominfo Provsui, Eddy Syofian juga mewakili Gubsu H Syamsul Arifin SE, nilai-nilai kebangsaan di kalangan masyarakat telah menurun. "Tidak hanya di masyarakat, bahkan mungkin terjadi juga di kalangan para pemimpin kita," katanya. ***