>>youne, medan
Gerakan hemat listrik yang disosialisasikan pihak PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai dalih mencari pembenaran diri terkait pemadaman listrik justru terkesan tidak fokus.
PLN malah mempersalahkan masyarakat sebagai konsumen listrik yang dituding tidak melakukan penghematan, khususnya pada saat terjadi beban puncak saat pukul 18.00 wib sampai dengan pukul 22.00 WIB.
"Jadi kebijakan kita dalam menyikapi pemadaman bergilir ini, sama-samalah kita imbau masyarakat untuk menghemat energi listrik. Kita minta agar listrik dipakai bukan untuk konsumtif," cetus GM PLN Wilayah Sumut Ir Deni Pranoto, di hadapan Komisi D DPRD Sumut, saat berlangsung rapat dengar pendapat dengan komisi itu, di aula gedung dewan, Selasa (23/2).
Ucapan tersebut sontrak membuat kesal anggota DPRD SU yang memang sudah kesal akan pemadaman yang terus menerus melanda daerah ini.
Salah seorang anggota Komisi D, Biller Pasaribu menyesalkan, pihak PLN seakan mengambinghitamkan masyarakat atas kondisi itu. "Sosialisasi hemat energi listrik ke konsumen rumah tangga tidak tepat. Saya yakin justru konsumen rumah tangga itu lebih mau berhemat. Mencuri listrikpun mereka tidak berani takut terjadi kebakaran," ucap Biller. Sehingga politisi Partai Golkar ini meminta PLN fokus dalam melakukan sosialisasi gerakan hemat listrik ke sektor perumahan mewah, perhotelan, industri dan pabrik serta perkantoran.
Bahkan anggota Komisi B Lainnya, Tunggul Siagian mengatakan bilboard-bilboard yang menjamur di jalanan juga sangat konsumtif menggunakan energi listrik.
Pertemuan itu dipimpin Ketua Komisi D, H Ajib Shah didampingi wakil Ketua Jhon Hugo Silalahi, dihadiri anggota lainnya yakni Tagor Simangunsong, Andi Arba, Jamaluddin Hasibuan, Mustofawiyah, H Hasan Maturidi, Zulkarnain, Restu Sarumaha dan Yusuf Siregar.
Ir Deni Pranoto didampingi GM Kit Sumatera bagian Utara Ir Ikuten Sinulingga dan para staf PLN lainnya, memaparkan pada 2009 PT PLN memiliki 2.443.684 pelanggan dengan rencana penambahan pelanggan menjadi 2.527.610 pada 2010. Dengan demikian terjadi penambahan 3.43 persen dalam satu tahun tersebut.
Dari jumlah tersebut 38 persen merupakan jumlah pelanggan rumah tangga dan selebihnya kalangan bisnis, industri, publik dan sosial. Diakui, bahwa pihak PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir di sektor rumah tangga selama lebih kurang empat jam perharinya guna mengurangi beban puncak. "Pemadaman dibagi 6 kelompok wilayah pelanggan" paparnya.
Usia Pembangkit
Sementara itu usia mesin pembangkit yang dinilai sudah tua juga dijadikan alasan pihak PLN dan mengemuka dalam rapat tersebut. "Umur mesin pembangkit kita rata-rata sudah 20 hingga 30 tahunan, semuanya sudah tua betul," ujar Pranoto.
Seperti mesin pembangkit yang ada di PLTG Glugur, kata Pranoto usianya sudah 30 tahun, sehingga pihaknya harus lebih hati-hati menggunakannya. "Kalau tidak dirawat akan semakin rusak,' keluhnya lagi.
Begitu juga dengan pembangkit di sektor Medan Belawan, PLTG Paya Pasir dan PLTD Titi Kuning yang bahkan sudah mencapai usia 34 tahun. Sehingga, lanjut Pranoto pihak PLN harus segera membeli pembangkit baru.
Namun, kata Pranoto lagi, meski masih tetap terjadi pemadaman pihaknya masih memberi harapan kepada masyarakat Sumut akan terjadi perbaikan dengan pembangunan PLTU Pangkalan Susu Langkat dengan daya 2200 MW, serta pembangkit dari potensi PT Inalum.
Pada pertemuan itu juga disinggung mengenai kondisi kelistrikan Pulau Nias yang juga mengalami defisit lebih kurang 5.52 MW (Beban puncak 13.7 MW, daya Mampu 8.18 MW disamping daftar tunggu lebih kurang 7.4 MW). Upaya mengatasi defisit dilakukan dengan sewa genset mobile (3MW) mulai Desember 2009 s/d Maret 2010.
Sewa diesel di Teluk Dalam (3 MW) dalam pelaksanaan rencana operasi Maret 2010. Selanjutnya sewa diesel di Gunung Sitoli (5 MW) dalam pelaksanaan rencana operasi April 2010. Sedangkan usulan jangka pendek dengan mempercepat pembvangunan Batubara 2x3 MW (Teluk Dalam) dan 2x7 MW (Gunung Sitoli) yang sudah ada dalam program PLN Pusat. ***