>>imbc, medan DPRDSU meminta Bank Sumut untuk "mengejar" 6 juta penabung produktif di Sumut yang belum tersentuh, dengan jumlah dana mencapai Rp 6 trilun.
"Asumsi itu dilihat dari rata-rata penabung sebesar Rp1 juta per orang dari 6 juta penabung yang masuk dalam kelompok produktif, sehingga jika dikalikan secara keseluruhan mendekati angka R6 triliun," kata anggota Komisi C DPRD Sumut, Hj Meilizar Latief SE, MM, Senin (1/3).
Menurut anggota dewan dari Fraksi Demokrat ini, jumlah tabungan tersebut cukup signifikan dan dapat digunakan sebagai engine atau mesin penggerak bagi bank-bank dalam menjalankan tugasnya.
Dalam kaitan ini, Bank Sumut sebagai bank pemerintah Sumut perlu berpacu dengan bank-bank lainnya di daerah ini, sebagai bagian dari kampanye peluncuran produk tabungan bersama Gerakan Indonesia (Tabunganku) yang diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono di Jakarta pada 20 Februari 2010. Pada hari yang sama, kampanye menabung juga sudah diluncurkan Gubsu H Syamsul Arifin di Medan.
Peluncuran Tabungan-KU digagas Bank Indonesia bersama 70 bank umum dan bank pembangunan daerah konvensional dan syariah serta 90 Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Melizar menjelaskan, dengan jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa yang terasumsi 80 juta jiwa secara keseluruhan penabung produktif, 6 juta di antaranya berada di Sumut yang dapat digali secara optimal.
"Karenanya, dalam hal ini, Bank Sumut perlu mencermati opportunity segmen pasar ini agar dana pihak ketiga itu dapat dimanfaatkan sebagai substitusi dana APBD," lanjut Melizar.
Namun Melizar mengingatkan, untuk merebut "kue" ini, Bank Sumut bersama jajaran perbankan lainnya harus patuh dengan undang-undang perbankan, dan aturan lain yang telah ada, dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian (prudensialitas) yang tinggi.
"Selain itu, untuk mensukseskan kampanye Tabungan-KU, kalangan perbankan harus berada pada koridor tugas, pokok dan fungsi (Tupoksi) secara maksimal di bawah pengawasan melekat oleh Bank Indonesia.
Dengan demikian, fungsi perbankan sebagai intermediary dari masyarakat surplus dana kepada masyarakat yang membutuhkan dana dapat berjalan baik, sehingga dapat menimbulkan rasa kepercayaan dalam bertransaksi ke bank (bank minded).
Sektor Riil
Menyinggung alokasi dana tabungan yang akan diserap perbankan, Melizar menegaskan, sebaiknya difokuskan ke sektor riil, dalam bentuk bantuan ke Usaha Kecil dan Menengah (UKM), pertanian, industri, dan ekonomi mikro lainnya. "Kita berharap dana tabungan ini tidak diarahkan ke sektor konsumtif, karena peningkatan rasio bersifat labil dan kerap membawa persoalan terkait kemampuan daya beli masyarakat," katanya.
Saat ini, sektor riil dapat menunjang ekonomi mikro dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional. Untuk menunjang sektor riil dan menyukseskan gerakan Tabungan-KU, anggota DPRD Sumut Meilzar Latief SE MM mengingatkan kalanan perbankan, termasuk Bank Sumut untuk melakukan gerakan sosialisasi, edukasi dan promosi sesuai dengan prinsip marketing. "Harus disosialisasikan, dengan sasaran agar masyarakat mendapatkan kemudahan dan manfaat dalam menabung," katanya.
Selain itu, Meilizar juga meminta Bank Indonesia untuk turut melakukan pengawasan ekstra dan peringatan dini dalam pengelolaan Tabungan-KU."Ini dilakukan agar bank-bank tetap menjalankan kegiatan perbankan dan gerakan menabung sesuai koridor hukum," pungkasnya. ***