>>fai, medan Ketua Alumni Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) Drs Boyke Turangan MAP menilai ada upaya-upaya penekanan (pressure) terhadap para camat, lurah dan khususnya kepala lingkungan (kepling) untuk menenangkan salah satu pasangan calon Walikota/Wakil Walikota Medan menjelang Pilkada 12 Mei mendatang.
"Inilah kondisi yang terjadi menjelang Pilkada Medan. Ada upaya penekanan kepada camat, lurah dan kepling untuk memenangkan salah satu pasangan calon. Ini tidak fair dan sama saja artinya menzholimi para pasangan calon lainnya untuk memenangkan Pilkada Medan," kata Boyke Turangan, Minggu (18/4).
Oleh sebab itu, Boyke meminta para camat, lurah, atau jajaran aparatur pemerintahan hingga kepling agar tidak mudah terjebak atas adanya instruksi-instruksi yang harus memenangkan pasangan calon.
"Sebagai aparatur pemerintahan di tingkat kecamatan, kelurahan dan lingkungan, sikap netralitas mereka harus terjaga demi terciptanya Pilkada Medan yang jujur dan menghasilkan pemimpin Medan yang dibutuhkan rakyat untuk lima tahun ke depan," kata Boyke yang juga Ketua Alumni Pasca Sarjana Magister Pembangunan USU, ini.
Menurut Boyke, penekanan yang dilakukan pihak-pihak tertentu terhadap aparatur pemerintahan di tingkat kecamatan, kelurahan dan lingkungan, untuk memenangkan salah satu pasangan calon, kondisi ini justeru memunculkan dilematis bagi aparatur pemerintahan itu sendiri.
"Banyak para kepling yang mengadu ke saya kalau mereka sebenarnya tidak menginginkan adanya tekanan-tekanan yang memaksa mereka untuk memenangkan salah satu pasangan calon. Bahkan tidak sedikit pula kepling yang berani menentang secara terang-terangan kalau mereka tidak bisa diintervensi," katanya.
Adanya penekanan terhadap aparatur pemerintahan itu khususnya para kepling, menurut Boyke, bisa memunculkan suhu politik di Medan memanas. Sebab, cara-cara seperti ini tidak fair dan dinilai menzholimi para pasangan calon lainnya yang akan bertarung pada Pilkada nanti.
"Kondisi itu bisa saja memunculkan imej yang tidak baik dalam penyelenggaraan demokrasi di Medan . Sebab, ada upaya pengkondisian agar aparatur pemerintahan khususnya kepling dimanfaatkan untuk memenangkan salah satu pasangan calon. Kepling misalnya, sebagai aparatur pemerintahan yang paling bawah dan tugasnya selalu berkenaan dengan masyarakat, mereka dimanfaatkan untuk membujuk warganya soal siapa yang harus dicoblos pada Pilkada nanti," sebut dia.
Terkait dengan hal itu, Boyke juga dalam kesempatan itu mengimbau kepada masyarakat kota Medan untuk tidak terjebak dan benar-benar menggunakan hati nuraninya dalam menentukan pilihannya pada Pilkada Medan nanti.
"Meski ada semacam pengkondisian, saya meyakini kalau masyarakat tidak mudah terpengaruh dan mereka akan menentukan pilihannya sesuai hati nurani tanpa terjebak iming-iming. Sebab masyarakat kita sekarang sudah cerdas," demikian Boyke. ***