Pemblokiran Jalan Perintis Kemerdekaan Terus Berlanjut

>>luqman, binjai

Ratusan warga Kelurahan Cengkeh Turi terus melakukan aksi pemblokiran Jalan Perintis Kemerdekaan, Binjai Utara. Bahkan, warga sudah tidak percaya dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Binjai. Pasalnya bahan perbaikan jalan berupa beskos tak diizinkan dibongkar, Jumat (11/6).

Tak diizinkannya bahan perbaikan jalan tersebut untuk dibongkar, disebabkan warga sudah muak dengan pembohongan yang selama ini dilakukan Pemerintah Kota (Pemko) Binjai. Warga menilai, jika bahan tersebut dibongkar untuk menimbun jalan, maka jalan semakin berdebu. Sementara, jalan tidak diketahui kapan akan diaspal.

Selain itu, warga juga sudah muak dengan penimbunan jalan yang dilakukan Pemko Binjai. Namun, pengaspalannya tidak pernah dilakukan, "Kalau penimbunan untuk jalan ini, sudah tidak terhitung lagi, yang kami dapat hanya debu tebal, sebab beskos untuk menimbun jalan ini lebih banyak tanah daripada batunya,"ujar Sudarsono.

Maka dari itu kata Sudarsono, truk yang membawa beskos tidak diizinkan warga untuk dibongkar. Apalagi, warga meminta aspal bukan penimbunan, "Kalau aspal yang datang, kami segera membuka pemlokiran jalan ini, sebab itu yang diminta, kalau hanya sertu dan beskos kami sudah muak,"tegasnya.

Menurut Sudarsono, Jalan Perintis Kemerdekaan sudah berulang kali ditimbun, sehingga, tidak perlu lagi dilakukan penimbunan, "Seharunya, jalan ini sudah bisa disiram langsung dengan aspal. Kalau ingin di timbun, bongkar kembali jalan ini, setelah dibongkar siram dengan batu koral, setelah diratakan barulah ditimbun dengan beskos dan sertu, setelah itu baru disiram dengan aspal. Kalau tidak seperti itu sama dengan pengerjaan yang asal-asalan. Jika kita lihat pengerjaan pengaspalan jalan ini, memang diaspal, tapi asli apa palsu,"ucapnya.

Dari keterangan yang dihimpun wartawan, selain warga, supir truk yang tidak bisa bekerja akan mendatangi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Binjai, guna menuntut kutipan retribusi. Sebab, uang retribusi tidak diketahui kemana realisasinya. Apalagi, kutipan tersbut mencapai Rp15 ribu satu trip, sementara perbaikan jalan tidak pernah dilakukan.

Sementara itu, Nanda, selaku kontrakotor Jalan Perintis Kemerdekaan, kepada wartawan mengatakan, sudah memberikan penjelasan kepada warga. Namun, warga tidak ingin mendengarkan penjelasannya.

Menurut Nanda, sebelum jalan tersebut diaspal, terlebih dahulu di timbun, kemudian diratakan dengan alat berat, seteah rata dan padat, barulah diturunkan aspal, "Jalan inikan dihotmix, jadi kita bersihkan terlebih dahulu, kemudian kita turunkan aspal. Kalau tinggal pengaspalan, dalam waktu dua hari jalan ini selesai dikerjakan,"ujar Nanda.

Disoal masalah lambannya jalan tersebut diaspal, Nanda mengaku terkendala dengan anggaran, "Memang kemarin janjinya akhir bulan Mei 2010, namun kerena ada kendala dianggaran, macamana kita bisa membeli aspal,"ungkapnya.

Dikarenakan tidak diizinkan membokar bahan di Kelurahan Cengkeh Turi, Nanda membongkar bahan tersebut di Kelurahan Kebun Lada, Binjai Utara, yang juga termasuk dalam proyek tersbut.

 

"Pengerjaan akan kami lakukan di Kelurahan Kebun Lada dan kalau masyarakat Kelurahan Cengkeh Turi tetap bersikeras, maka jalan tersebut akan dibiarkan seperti itu saja,"tegasnya.

Pantauan wartawan di lokasi pemblokiran Jalan, warga Kelurahan Cengkeh Turi masih bertahan di tenda yang dibuat di tenagah Jalan Perintis Kemerdekaan. Bahkan, jalan terlihat sepi dari truk yang biasa melintasi jalan tersebut, yang terlihat hanya pengendara sepeda motor. Parahnya, sampai saat ini belum ada dari Pemko Binjai atau pihak terkait yang turun ke lapangan guna memberikan penjelasan lebih jauh terkait perbaikan jalan tersebut.

Bahkan, sekira pukul 19.00 WIB, masyarakat yang melintas di Jalan Gatot Subroto sempat mengeluh. Sebab terjadi kemacatan di jalan tersebut. Hal itu disebabkan, ratusan truk yang dihadang warga memutar arah ke Jalan Gaot Subroto, "Saya heran, kok ramai sekali truk melintas di jalan ini, kalau begini jadi sulit jalan, mana mau cepat lagi,"kata S Bangun. ***