Rahudman-Eldin Jangan Salahartikan The Leader, The Man and The Gun

>>imbc, medan

Tokoh Eksponen 66 DR Phil Dharma Indra Siregar meminta Walikota Medan terpilih H Rahudman Harahap dan Wakilnya, H Dzulmi Eldin untuk tidak menyalahartikan pemaknaan The Leader, The Man and The Gun (Pemimpin, Manusia dan Senjata).

"Jangan diartikan seakan the leader itu penguasa, sehingga memberi kesan arogan," kata tokoh masyarakat bergelar Baginda Raja Pinayungan Ompu Jasomalap Sipirok Bagas Godang. kepada pers di Medan, Sabtu (31/7).

Putra Tapsel pengagum Perdana Menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir ini menjelaskan hal itu pada dialog publik Dialog Publik LIPPSU 420 Tahun Kota Medan bertemakan Menatap Kota Medan Hari Ini, dan Akan Datang di Hotel Madani, Medan.

Menurutnya, arti sesungguhnya the leader itu adalah hati nurani rakyat yang disampaikan melalui wakil-wakilnya di legislatif dan eksekutif, sedangkan the man itu adalah manusia pelaksananya dan the gun adalah alatnya.

Jika direnungkan, konsep yang pernah disampaikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam sebuah aksi demo di Jakarta tahun 1966 lalu.

Yakni pentingnya the leader, the man, and the gun untuk melaksanakan pembangunan dengan setting sosial politik dan ekonomi.

"Saya kira konsep ini masih relevan sampai sekarang dalam rangka pembangunan berkualitas," sebutnya.

Dalam kaitan terpilihnya Rahudman-Eldin sebagai walikota dan wakil walikota Medan , Dharma Indra mengingatkan kepada pemimpin yang terpilih secara demokratis itu tidak syur sendiri. "Saya meminta kepada keduanya jangan merasa terbawa pemahaman yang salah memahami bahwa the leader itu penguasa. Itu salah besar.

Yang harus diperhatikan justru the man-nya, yakni manusianya, yang diperkuat oleh the gun sebagai alat yakni perangkat peraturan dan undang-undang. Seorang pemimpin harus punya hati nurani, harus mampu menyerap aspirasi masyarakat," papar tokoh yang meraih gelar doktor filosofi dari Amerika ini.

Kesatuan Indah

Kalau dikombinasikan, maka the leader, the man and the gun sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang indah, yang bila dilaksanakan dengan baik akan menciptakan good governance yang berwibawa.

Menyebut sosok Rahudman, Dharma Indra menandaskan, dia memang pesimis mantan Sekda Tapsel yang pernah bermasalah ini mampu memimpin Kota Medan.

"Kalau dia gagal di Tapsel, apa pula dasarnya dia bisa berhasil di Medan , tidak mungkin itu," tegasnya.

Akan tetapi, itu bisa saja berbalik, jika Rahudman yang berpasangan dengan Dzulmi Eldin benar-benar melaksanakan amanah rakyat yang telah mempercayainya memimpin kota berpenduduk lebih 2 juta jiwa ini.

"Jelasnya, ke depan, Rahudman-Dzulmi Eldin harus punya semangat yang kuat. Untuk menyukseskan komitmen politik dalam visi dan misi, Rahudman memang memerlukan semacam oase segar yang baru sebagai power atau tenaga penggerak pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan ke depan," pungkasnya. ***