Para pejuang dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia (RI) resah dan khawatir terhadap perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini diwarnai indikasi krisis moral dan jatidiri bangsa.
Kekhawatiran tersebut secara tegas disampaikan Ketua Umum Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Sumut H Bachta Nizar Lubis dihadapan Gubsu H Syamsul Arifin SE berserta Muspida dan pimpinan DPRD Sumut serta ratusan pejuang dan janda pejuang perintis kemerdekaan RI di Gubernuran Medan, Minggu (15/8).
Pada momentum ramah tamah sehubungan menyongsong HUT ke-65 Kemerdekaan RI yang dirangkai dengan Berbuka Puasa Bersama dan Shalat Maghrib berjamaah tersebut Gubsu H Syamsul Arifin langsung merespon positip ‘warning' para pejuang ini seraya mengakui indikasi itu memang harus disikapi serius oleh semua pihak pewaris kemerdekaan RI.
Ditegaskan Gubsu, peringatan tulus dari pejuang ini jangan dianggap enteng, melainkan harus digarisbawahi dengan tinta tebal. Untuk itu Gubsu langsung memerintahkan Kadis Kominfo Sumut H Eddy Syofian MAP agar mencatat semua ‘warning' dimaksud dan dicetak dalam bentuk buku saku agar menjadi perhatian segenap anak bangsa terutama generasi muda.
Lebih lanjut Ketua Umum DHD 45 memaparkan dewasa ini banyak indikasi yang dianggap telah menyimpang dari asas-asas kehidupan berbudaya dan berkepribadian bangsa sendiri. Bahkan telah muncul dan berkembang berbagai bentuk sifat dan semangat yang bertentangan dengan budaya dan kepribadian bangsa.
Dia memberi contoh tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak berupa perkosaan, cabul, penganiayaan berat dalam keluarga, penipuan, perdagangan wanita, pemerasan dan lainnya. "Mengapa sifat dan semangat yang tidak cocok dengan budaya dan kepribadian bangsa itu dapat berkembang ? Jawabnya jelas bahwa manusia, bangsa dan negara Indonesia sebagian masih mempunyai jiwa, semangat dan nilai juang yang lemah," tegasnya.
Oleh sebab itu lanjutnya jika kita ingin memiliki bangsa dan negara yang kuat, maka rakyat Indonesia harus membudayakan jiwa, semangat dan nilai-nilai kejuangan '45 yang merupakan pondasi utama bagi rakyat Indonesia, bangsa dan negara. Harapan kita semua untuk mengembangkan dan meningkatkan pembudayaan jiwa, semangat dan nilai-nilai kejuangan 1945 itu memperoleh Rahmat dan Hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Dia menegaskan berbagai persoalan bangsa yang muncul belakangan ini ditengarai akibat bangsa ini telah kehilangan pegangan dan pedoman arah yang akan dituju. Persoalan-persoalan tersebut dapat diselesaikan jika bangsa Indonesia kembali ke Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila.
"Pancasila sebagai falsafah bangsa, kita rasakan saat ini hanya dipandang oleh sebagian orang sebagai assesoris saja, sebagai lips service semata, sementara dalam praktek dan implementasinya terasa sangat jauh dari nilai-nilai Pancasila. Secara kasatmata dapat kita lihat melalui media bagaimana akrobat politik yang dilakukan sebagian elite bangsa baik di bidang Legislatif, Eksekutif dan bahkan Yudikatif dengan mengatas-namakan Pancasila," ujarnya.
Oleh sebab itu tegasnya esensi dan falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang sangat tinggi tersebut sudah tentu tidak dapat dipisahkan dari Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai Kejuangan 45. "Kita dari Dewan Harian '45 baik di tingkat Pusat maupun seluruh Daerah secara konsisten tetap menyerukan kembali ke UUD 1945 dan sikap ini telah dicetuskan oleh DHN '45 pada lima tahun lalu dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan tahun 2005," ujarnya.
Dia juga mengemukakan kenyataan yang terjadi saat ini membutuhkan komitmen anak bangsa untuk berbuat bagi bangsa ini mencakup empat hal yaitu memperkukuh karakter dan jatidiri bangsa, aktualisasi nilai 4 (empat) pilar kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika), restorasi nilai-nilai Luhur Budaya Bangsa dan emperkokoh Wawasan Kebangsaan. ***