Upaya penyelundupan 20 ton pakaian asal Malaysia yang diangkut KM Daun Mas berhasil digagalkan Petugas Patroli Kemanan Laut (Patkamla) TNI Angkatan Laut yang dioperasikan Lantamal I Belawan, Minggu (15/8).
Pada patroli itu, petugas kemanan laut juga menemukan 3 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang hendak pulang ke tanah air secara ilegal melaluki kapal tersebut.
Keterangan dari Kepala Seksi Bagian Penerangan dan Pasukan Lantamal I, kapal bermuatan pakaian "monza" dan berpenumpang TKI gelap itu dipergoki Patkamla Camar di sekitar kawasan perairan Percut Sei Tuan sekira pukul 02.30 dinihari
Komandan Patkamla Camar Serda P Sembiring yang merasa curiga terhadap kapal sarat muatan itu lalu melakukan pengejaran dan menghentikan laju KM Daun Mas bernomor lambung GT.9 No 2687/PPb. Nahoda kapal Uc warga Tanjung Balai Asahan yang mengetahui kapalnya bakal menjadi sasaran penangkapan langsung kabur dengan meloncat ke laut dan diikuti tiga awak lainnya.
Ketika petugas TNI AL melakukan pengeledahan terhadap kapal jenis pompong tersebut, petugas menemukan 3 orang TKI, yakni Chairuddin (37) warga Jalan Pendidikan Tanjung Balai, bahrul (50) warga Pandan Palas Batu Bara dan Syamsul (33) warga Desa Lalang Batu Bara.
Menurut ketiga penumpang, mereka naik dari Portklang Malaysia bersama 20 ton pakaian "monza " dengan tujuan Tanjung Balai Asahan. Dari Port Kalang mereka berangkat Jumat (13/8) pukul 17.00. "Kami hanya penumpang, karena sudah tidak tahan lagi bekerja di Malaysia ," ujar Chairuddin salah seorang TKI yang mengaku memilih pulang ke tanah air lewat jalur ilegal karena ongkosnya murah dan bisa dibayar setelah sampai tujuan.
Secara terpisah, Asisten Operasi Danlantamal I Kolonel Laut (P) Tri Satriya Wijaya yang dikonfirmasikan menyebutkan, penangkapan yang dilakukan pihaknya untuk menyegah penyelundupan barang-barang asal luar negeri maupun kejahatan lainnya seperti TKI ilegal.
"Kita sejak Juli 2010 melancarkan operasi kemanan laut dengan mengerahkan 6 unsur Patkamla mulai dari utara pantai Medan hingga Lhokseumawe dan pesisir timur Sumatera Utara yang berlangsung hingga Agustus 2010," katanya. ***