Enam puak (subetnis) di suku Batak, Sumut akan memberi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) gelar kebesaran. Penganugrahan dilakukan saat Kepala Negara meresmikan Museum Batak di TB Silalahi Center di Desa Silalahi Pagar Batu, Balige, Toba Samosir pada Desember nanti.
Letnan Jenderal (Purn) TB Silalahi bersama Sekda Sumut, RE Nainggolan usai pertemuan dengan sejumlah bupati se kawasan Danau Toba dan Tapanuli di Kantor Gubernur Sumut di Medan, Kamis (19/8) menjelaskan, pemberian gelar kebesaran itu untuk aktualisasi bahwa tak ada pengotak-kotakan di suku Batak, baik karena wilayah administrasi, agama, dan aspirasi politik.
"Semua orang Batak adalah satu. Karenanya, para ketua adat di puak Karo, Simalungun, Toba, Pakpak, Mandailing, dan Angkola akan bersepakat satu sama lainnya untuk memberikan gelar kebesaran tersebut," ucap TB Silalahi menjelaskan maksud pertemuan.
TB mengaku, di hari tuanya ini, dedikasinya hanya mengimpikan enam puak di suku Batak bisa bersatu dalam budaya. Karena, selama ratusan tahun lamanya, persatuan dan kesatuan dalam bangsa Batak itu sudah coba diceraiberaikan oleh kolonial Belanda melalui politik devide at impera. Namun bukan perpecahan yang terjadi, justru sebaliknya menjadi pengayaan warisan budaya.
"Memang, antara enam puak di suku Batak saat ini berbeda soal wilayah administrasi, soal agama, dan soal adat resam kesukuan. Namun semua perbedaan itu akan menjadi positif artinya, bila dalam budaya bisa disatukan yang implementasinya akan diwujudkan pada Desember nanti," beber pria bergelar Datuk Panglima Payung Negeri yang dianugrahkan Raja Muda Deli, Tengku Hamdy Osman Delikhan pada Desember 2007 lalu di Istana Maimun Medan.
TB dikesempatan itu membeberkan progres pembangunan Museum Batak yang dibangun di atas lahan 3 Hektare dan menelan biaya Rp 15 miliar. Pembangunan fisik museum berlantai tiga, dengan panjang 50 meter itu, sampai kini sudah mencapai 70-80 persen. TB Silalahi memperkirakan, sekitar akhir Oktober-Nopember, museum tersebut sudah bisa di soft launching, dan rencananya akan dilakukan oleh Gubsu, Syamsul Arifin.
Museum ini akan menyimpan, memelihara, dan memamerkan benda-benda peninggalan budaya Batak. Karenanya, TB sangat yakin keberadaan museum ini kelak bisa dimanfaatkan untuk sarana penanaman kesadaran sejarah bagi genarasi muda Batak di masa depan.
"Saat ini, saya hanya punya koleksi naskah/transkrip, dan artefak Batak sebanyak 1.000 jenis. Sementara, kapasitas museum bisa menampung 20.000 jenis. Karenanya, sangat diharapkan bagi masyarakat yang memiliki koleksi peninggalan sejarah Batak, bisa ikut dipamerkan dalam museum ini," jelasnya. ***