Bupati Diminta Tinjau Izin Galian C

Pengusaha “Kayaraya” Sungai Bilah Babak Belur

>>zainul rantauprapat,

Aktifitas pengerukan pasir dengan alat berat (excavator) di Sungai Bilah, Rantau Prapat, sudah sangat mengkhawatirkan.Pengerukan itu terkesan hanya memperkaya pengusaha, sedangkan Sungai Bilah terkesan "babak belur" dan tercemarnya sumber air bersih disana.

Hal itu di katakan Muktar Matondang Ketua Lembaga Pemantau Penyelanggara Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (LP3 NKRI), Minggu (22/8) di pinngiran Sungai Bilah.

Menurutnya, aktifitas lat berat itu sangat merugikan ekosistem sungai dan menghancurkan bantaran sungai yang selama ini ada,tetapi kini sudah hilang karena di perbesar oleh pengusaha dan mempersempit DAS (Daerah Aliran Sungai).

"Aliran sungai makin sempit dan kepunahan ekositem akan terancam"katanya bernada memohon agar adanya tindakan nyata dari Pemkab untuk segera menyikapi persoalan ini secepat mungkin.


Persolaan izin, lanjut Matondang menjadi sangat penting untuk dintinjau ulang. Karena pemberian izin sudah banyak penyimpangan. Salah satunya tidak adanya pengawasan terhadap para pengeruk. Bahkan pemerintah Kabupaten Labuhanbatu membiarkan alat berat itu bekerja secara leluasa di tengah aliran sungai. Sedangkan truk berukuran raksasa terparkir di pinggir sungai untuk menunggu pasir yang di keruk excavator.

"excavator langsung mengisikan pasir dari sungai ke dalam truk raksasa,"jelasnya .

Pantauan imbc di lokasi, bahwapara pemilik alat berat membangun posko di bantaran sungai bertingkat dua, dengan sejumlah mandor dengan gaya premanisme memantau semua aktifitas pengerukan. ***