Letusan Gunung Sinabung di Kecamatan Naman Terang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Minggu (29/8) dini hari, ternyata mempunyai efek lain, di samping hujan debu vulkanik yang bisa menimbulkan Inspeksi Saluran Pernafasan Atas (Ispa).
"Ada efek sekunder dari letusan Gunung Sinabung ini, yaitu banjir lahar yang sewaktu-waktu bisa muncul pada sejumlah sungai yang mempunyai hulu dari kawasan tersebut," ucap Kepala Tim Vulkanologi asal Bandung, Surono dari lokasi kejadian, Minggu (29/8) sore.
Menurut Surono, kemungkinan munculnya ancaman banjir lahar pada sejumlah sungai yang memiliki hulu ke Gunung Sinabung, semakin menguat di saat curah hujan tinggi seperti saat ini.
Banjir lahar pada sungai tidak akan memunculkan ancaman yang cukup serius, apabila DAS (daerah aliran sungai) tersebut tidak dihuni manusia. "Jadi, yang perlu waspada bukan sungainya, melainkan orang yang tinggal di DAS," ungkap Surono.
Hal senada dibenarkan Kepala Dinas Energi dan Pertambangan Sumut, Untungta Kaban. Dijelaskannya, aktivitas Gunung Sinabung yang semakin aktif, dan bahkan sudah memuntahkan lahar panas, perlu disikapi lebih ekstra hati-hati.
"Apapun makluk hidup yang berada dalam radius 6 km dari puncak/kawah gunung, harus disterilkan atau dievakuasi. Dan hal ini sudah dilakukan kepada seluruh warga dari 12 desa di empat kecamatan," kata Kaban.
Di samping itu, lanjut Kaban, hasil mufakat antara Tim Vulkanologi Bandung, Pemkab Karo, Satloklak PBB Sumut, Satlak Karo, dinas kesehatan, dan pihak lainya, juga dianjurkan kepada warga untuk memakai masker, apabila hujan debu semakin tebal.
"Tak hanya itu, sumber-sumber air bersih, baik di luar maupun di dalam rumah, agar ditutup, sehingga terhindar dari debu vulkanik," katanya. ***