#jack, medan –
Kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Karo harus menjadi perhatian serius dalam penerapan standar keamanan pangan. Temuan tiga jenis bakteri pada sampel makanan yang dikonsumsi siswa dinilai tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan makanan basi, tetapi harus menjadi momentum untuk mengevaluasi seluruh rantai penyediaan makanan.
Pengamat Kesehatan Sumatera Utara, Destanul Aulia, mengatakan kasus tersebut perlu ditangani secara serius karena menyangkut keamanan pangan yang dikonsumsi oleh anak-anak sekolah dalam jumlah besar.
Menurutnya, keberadaan bakteri tertentu dalam makanan memang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Namun, jenis bakteri penyebab keracunan tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan gejala yang dialami para siswa.
“Kasus keracunan pada program Makan Bergizi Gratis harus dipandang sebagai kejadian serius dalam keamanan pangan, bukan sekadar persoalan makanan basi,” ujar Destanul saat memberikan keterangannya, Jumat (11/9/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah bakteri yang dapat terlibat dalam kasus keracunan makanan antara lain Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Salmonella spp., Escherichia coli, dan Clostridium perfringens.
Meski demikian, Destanul menegaskan, keberadaan bakteri tertentu sebagai penyebab utama gangguan kesehatan harus dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan tidak cukup hanya dilakukan berdasarkan gejala klinis yang dialami pasien.
“Jenis penyebabnya tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan gejala. Harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan, air, muntahan, atau feses pasien,” katanya.
Destanul menilai evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, khususnya setelah muncul kasus gangguan kesehatan di Karo, harus dilakukan secara menyeluruh. Evaluasi tidak hanya menyasar makanan yang sudah sampai ke tangan siswa, tetapi juga seluruh proses sejak bahan pangan dipilih hingga makanan dikonsumsi.
Menurutnya, sejumlah aspek penting perlu diperiksa, mulai dari kualitas bahan baku, air yang digunakan, kebersihan para penjamah makanan, proses pemasakan, penyimpanan, hingga pengangkutan makanan menuju sekolah.
“Evaluasi harus dilakukan dari hulu sampai hilir, mulai dari pemilihan bahan, kualitas air, kebersihan penjamah, pemasakan, penyimpanan, pengangkutan, suhu makanan, dan lamanya waktu sejak makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi,” jelasnya.
Ia menekankan, pengendalian suhu dan waktu menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan makanan. Makanan yang telah selesai dimasak harus ditangani dan disimpan dengan prosedur yang tepat agar tidak menjadi media berkembangnya mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan.
Karena itu, menurut Destanul, program MBG membutuhkan sistem pengawasan keamanan pangan yang lebih terukur dan terdokumentasi. ***


