#jack, medan –
Akademisi maupun pers diharapkan bisa memberikan informasi dan narasi positif tentang ekistensi kelapa sawit dikaitkan bencana banjir yang menerjang daerah ini di penghujung tahun 2025.
Demikian dikatakan Wakil Rektor III UMN Al Washliyah Prof Dr Samsu Bahri saat membuka work shop bertemakan “Membangun Narasi Berimbang Media Kelapa Sawit di Wilayah Terdampak Berbasis Mitigasi” di Hotel Grand Central Medan Senin (16/2/2026).
“Hari ini kelapa sawit menjadi subjek tertuduh, karenanya narasumber diharapkan memberikan narasi yang baik sehingga jangan sampai kelapa sawit menjadi subjek tertuduh tanpa ada sisi-sisi akademisnya,” kata Prof Samsu Bahri
pada work shop yang diselenggarakan Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) Sumut bekerjasama Sawitsetara.co, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDB) dan Pernata Grup.
Prof Samsu Bahri mengatakan,
bencana alam November 2025 lalu membuat kelapa sawit menjadi “tertuduh” dan dituding menjadi “biang keladi” terjadinya musibah banjir di daerah ini.
Kata dia, meski ada kontribusi terhadap musibah, tapi tentunya tidak seratus persen karena kelapa sawit justru program yang baik. “Mungkin saja yang menjadi penyebab terjadinya musibah banjir adalah subjek manusianya bukan kelapa sawit itu sendiri,” sebutnya lagi.
Prof Samsu mencontohkan, di negara Malaysia juga mengembangkan kelapa sawit secara besar-besaran, tapi tidak terdengar adanya banjir besar melanda negara itu akibat keberadaan kelapa sawit.
Sementara Ketua Apkasindo Sumut Ir Gusdalhari Harahap dalam sambutannya mengatakan kelapa sawit adalah anugerah Tuhan yang maha Kuasa bagi bangsa indonesia. Karenanya yang paling penting saat ini adalah bagaimana penanganan setelah bencana banjir tesebut.
Dia berharap, recovery (pemulihan) pasca bencana tidak hanya berupa pisik tapi juga keekonomian yang bisa mengkselerasikan kegiatan berdasarkan pemikiran jernih dan akal sehat.
“Apa kira- kira yang bisa dilakukan dengan adik-adik mahasiswa yang orangtuanya tidak punya pencaharian akibat terdampak musibah,” kata Gusdalhari pada work shop yang pesertanya ratusan mahasiswa dari beberapa universitas di Medan.
Sedangkan Wakil Pemimpin Redaksi inimedanbung.com Muhri Fauzi Hafiz SE MA sebagai pemateri menyampaikan kelapa sawit berdampak ekonomi, sosial dan lingkungan.
Muhri dalam makalah Tehnik Menulis Menganalisis dan Membedah Dokumen Berbasis Mitigasi menekankan media harus berimbang dalam menyampaikan narasi di wilayah terdampak bencana.
“Jika tidak berimbang, narasi yang disampaikan bisa memicu konflik, sementara narasi yang berimbang justru akan memberikan solusi,” kata kandidat doktoral tersebut.
Kata dia, narasi yang berimbang dapat dilakukan dengan menghubungi semua nara sumber yang berkompeten serta melakukan verifikasi sekaitan dengan bencana yang terjadi.
“Jika semua itu dilakukan media, maka narasi yang disampaikan dalam pemberitaan akan membawa dampak positif,” kata Muhri Fauzi Hafiz yang dalam paparannya melakukan komunikasi dua arah dengan mahasiswa lewat kuis berhadiah buku.
Work shop yang berlangsung hangat ini juga menampilkan pemateri dari rekan pers lainnya serta kalangan akademisi dan dirangkai dengan sesi tanya jawab.
Acara antara lain dihadiri Pemred inimedanbung.com Yoko Soesilo Chou, Dirut BPDB Eddy Abduràhman, Direktur Sawitsetara.co Dr Eko Jaya Siallagan SP MSi serta undangan lainnya. ***


