#jack, medan –
Pelaksanaan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 yang digadang-gadang menjadi pesta rakyat dan ajang promosi budaya serta potensi daerah justru diwarnai keluhan dari masyarakat. Sejumlah pengunjung menilai harga tiket masuk yang berkisar antara Rp30.000 hingga Rp75.000 per orang terlalu mahal dan tidak berpihak kepada kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
Tingginya harga tiket dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat untuk datang ke arena PRSU. Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan memasuki tahun ajaran baru sekolah, banyak keluarga mengaku harus mengurungkan niat untuk berkunjung karena biaya yang harus dikeluarkan dinilai cukup memberatkan.
Salah seorang pengunjung, Putra Pratama, mengaku kecewa dengan kebijakan harga tiket yang diterapkan panitia. Menurutnya, PRSU sebagai agenda tahunan milik masyarakat Sumatera Utara seharusnya dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan justru menjadi hiburan yang sulit dijangkau karena mahalnya biaya masuk.
“Hari ini ekonomi masyarakat sudah sulit, apalagi sekarang kita sedang memasuki tahun ajaran baru di mana banyak keperluan yang harus dibeli untuk perlengkapan sekolah anak-anak. Sudah seharusnyalah Pak Gubernur memikirkan kondisi masyarakatnya,” ujar Putra saat ditemui di kawasan PRSU, Kamis (9/7/2026).
Ia mengatakan, kebijakan harga tiket yang relatif tinggi berpotensi menghilangkan esensi PRSU sebagai pesta rakyat. Menurutnya, masyarakat yang ingin menikmati pameran pembangunan, pertunjukan budaya, hingga berbagai wahana hiburan harus berpikir dua kali sebelum masuk karena biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit, terlebih jika datang bersama keluarga.
Putra mengaku menyaksikan sendiri banyak calon pengunjung yang awalnya antusias mendatangi lokasi PRSU. Namun, setelah mengetahui harga tiket masuk mencapai Rp75.000 pada hari tertentu, mereka memilih membatalkan niat dan pulang tanpa sempat menikmati berbagai fasilitas yang tersedia di dalam arena.
“Banyak calon pengunjung yang saya lihat pada pulang semua ketika mereka tahu harga tiketnya Rp75.000 per orang. Mereka datang ingin melihat-lihat, tapi akhirnya memilih pulang karena merasa keberatan. Sangat disayangkan,” katanya.
Menurut Putra, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun panitia penyelenggara. Sebab, semakin sedikit masyarakat yang masuk, maka tujuan PRSU sebagai ajang promosi budaya, pembangunan daerah, hingga pemberdayaan pelaku UMKM juga berpotensi tidak tercapai secara maksimal.
Ia meyakini bahwa penurunan harga tiket justru akan berdampak positif terhadap jumlah pengunjung. Dengan tarif yang lebih terjangkau, masyarakat akan lebih tertarik datang bersama keluarga sehingga aktivitas ekonomi di dalam arena PRSU juga ikut meningkat.
“Saya percaya, kalau harga tiketnya Rp20.000 saja, pasti jauh lebih banyak masyarakat yang datang. Orang tidak akan berpikir dua kali untuk masuk. Pengunjung ramai, pedagang juga senang, semua sama-sama diuntungkan,” ujarnya.
Meski mengkritik kebijakan harga tiket, Putra mengakui penyelenggaraan PRSU tahun ini memiliki banyak hal positif. Berbagai paviliun kabupaten/kota, pertunjukan seni budaya, hingga pameran pembangunan dinilainya sangat menarik dan memiliki nilai edukasi yang tinggi, terutama bagi anak-anak yang ingin mengenal keberagaman budaya serta potensi daerah di Sumatera Utara.
Karena itu, menurutnya sangat disayangkan apabila masyarakat justru tidak dapat menikmati seluruh rangkaian kegiatan tersebut akibat terkendala biaya masuk yang dinilai terlalu mahal.
“Acara PRSU ini sebenarnya bagus. Anak-anak bisa belajar mengenal budaya dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Sayang sekali kalau masyarakat tidak bisa masuk hanya karena harga tiketnya terlalu tinggi,” ucapnya.
Mewakili keresahan masyarakat, Putra berharap Gubernur Sumatera Utara segera mengevaluasi kebijakan harga tiket masuk PRSU. Ia meminta agar besaran tarif disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat sehingga PRSU benar-benar menjadi pesta rakyat yang dapat dinikmati seluruh kalangan.
“Harapan saya kepada Pak Gubernur, nominal harga tiket masuk PRSU kiranya dapat dikaji ulang kembali. Buatlah harga yang merakyat agar seluruh lapisan masyarakat di Sumatera Utara bisa melihat dan merasakan langsung kemeriahan serta keindahan PRSU. Jangan sampai masyarakat hanya bisa melihat dari luar karena tidak sanggup membeli tiket,” tutupnya.
Keluhan mengenai mahalnya harga tiket PRSU belakangan terus bermunculan dari berbagai kalangan. Selain dinilai memberatkan pengunjung, tingginya tarif masuk juga disebut berdampak pada sepinya aktivitas di dalam arena, yang pada akhirnya ikut memengaruhi pendapatan para pelaku UMKM dan peserta pameran yang menggantungkan harapan pada ramainya kunjungan masyarakat selama pelaksanaan PRSU.
Jika diinginkan, berita ini juga bisa dibuat dengan gaya yang lebih tajam dan investigatif, lengkap dengan angle mengenai dampak mahalnya tiket terhadap sepinya PRSU dan kerugian yang dialami pedagang UMKM. ***


